SDIT Thariq Bin Ziyad PHP

Pondok Hijau Permai Blok A. No. 23 Kec Rawalumbu Kota Bekasi.
Telp: 82405687, 82405688



Transformasi Fungsi, Kompetensi dan Pemikiran di Hari Guru Nasional

Diposting pada: 2015-03-30, oleh : Thariq Bin Ziyad PHP, Kategori: Artikel

Guru Baik-Masyarakat Baik, Pendidik Baik-Negara Baik : Transformasi Fungsi, Kompetensi dan Pemikiran di Hari Guru Nasional

Hari guru nasional setiap tahun kita peringati. Sudahkan hari guru nasional ini menjadi milik semua kalangan dan milik kita semua? Terlepas apa saja kita posisi dan profesinya, atau hanya milik mereka yang berprofesi sebagai guru saja? Fakta dilapangan menunjukan terkadang seorang guru juga sering lupa atau tidak tahu kapan hari guru itu diperingati.

Tulisan ini sengaja penulis hadirkan sebagai kado bagi penulis sendiri dan mereka yang masih ingat dan yang sengaja untuk mengambil hikmah dari peringatan pada hari ini (25 November 2013) sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Dengan harapan semoga hari guru ini merupakan hari yang memberi arti dan manfaat bukan hanya seremonial sesaat.

Mari kita hadirkan makna guru yang sesungguhnya dan seluas-luasnya agar peringatan hari guru kali ini bukan hanya menjadi milik mereka, seorang yang berprofesi guru. Agar hari guru nasional menjadi milik kita semua maka pada dasarnya guru mereka orang-orang yang berilmu dan dengan ilmunya itu mereka mampu mengarahkan, mendidik dan mengajarkan orang lain.

Para Orangtua adalah guru, Para wartawan adalah guru, para pejabat adalah guru, para PNS yang bekerja di dinas/kementrian pendidikan atau lainnya adalah guru, para jurnalism adalah guru, para pemimpin formal, nonformal maupun informal adalah guru karena dengan ilmunya mereka akan mampu mengarahkan, mendidik dan mengajarkan orang lain mengerjakan perbuatan yang baik, supaya menjadi lebih baik serta meninggalkan dan membenci sesuatu yang buruk.

Jika demikian adanya maka slogan “Guru Baik Masyarakatnya Akan Baik, Guru Baik Bangsanya Akan Baik, Guru Baik Negara Juga Akan Baik” akan terwujud dengan baik, tetapi jika hanya mereka saja yang berprofesi guru yang berbuat baik tanpa adanya dukungan dari semua pihak maka sulit rasanya untuk merealisasikan slogan tadi di atas.

Untuk itulah maka mari kita mengingat-ngingat kembali pesan Syaikhul Islam Imam Al-Ghozali tentang adab guru-murid, dengan kata lain adab pemimpin dan yang dipimpin, adab masyarakat dengan para tokoh-tokohnya sebagaimana dikutif oleh Ulama Kharismatik dunia Sa’id hawwa dalam kitabnya “Mensucika Jiwa” yang merupakan sarah dari kitab Ihya Ulumuddin karya monumental Imam Al-Ghozali :

Adab dan Tugas Murid :

1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadah hati, shalatnya jiwa dan peribadatannya batin kita kepada Allah Sang Maha Pencipta.

2. Mengurangi keterikatannya dengan dunia karena ikatan-ikatan itu terkadang bahkan sering menyibukkan dan memalingkan.

3. Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu (Orangtua/Guru) dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan urusannya dengan mematuhi semua nasehatnya.

4. Penuntut ilmu pada tahap awal ia harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia, baik apa yang ditekuninya itu ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Agar tidak putus asa atau bingung/malas dalam mengkajinya.

5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu. Kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan mempertimbangkan tujuan dan maksudnya, jika usianya mendukung maka ia berusaha mendalaminya.

6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi mejaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting.

7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya, karena ilmu tersusun secara runut sebagaimana jalan bagi seorang yang berjalan.

8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui dan menguasai ilmu yang paling utama/mulia.

9. Hendaklah tujuan murid menuntut ilmu di dunia ini adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya denga keutamaan dan diakhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan sesuatu yang lebih tinggi derajatnya, yang dekat daripada yang jauh, sesuatu yang penting dari yang tidak penting. Terutama urusan dunia dan akhirat.

 

Adab dan Tugas Pembimbing dan Pengajar :

1. Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya sebagai anak.

2. Meneladani Rosulullah SAW dengan tidak meminta upah mengajar, tidak bertujuan mencari imbalan ataupun ucapan terima kasih, tetapi mengajar semata-mata karena Allah dan Taqorrub kepadaNya.

3. Memberikan nasehat dan tidak meninggalkan nasehat kepada murid sama sekali.

4. Mencegah murid dari akhlak tercela, dengan cara langsung atau tidak langsung, dengan kasih sayang bukan dengan celaan.

5. Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya.

6. Membatasi sesuai dengan kemampuan murid, tidak menyampaikan kepadanya apa yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya agar tidak memberatkan atau membuatnya enggan belajar.

7. Murid yang terbatas kemampuannya sebaiknya disampaikan kepadanya hal-hal yang jelas dan cocok dengannya.

8. Hendaklah guru melaksanakan ilmunya, yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya, karena ilmu diketahui dengan mata hati (bashiroh) dan amal diketahui dengan mata, sedangkan mata jauh lebih banyak.

Dari uraian adab dan akhlak murid serta guru (pengajar dan pembimbing) di atas dapat kita fahami bahwa ilmu pendidikan pada zaman dahulu ternyata sudah memenuhi kaidah-kaidah psikologis dan pedagogis maupun andrigogis. Termasuk di dalamnya bahwa seorang guru harus mendidik dan melayani muridnya dengan penuh cinta.

Idiologi cinta dalam berbagai maknanya termasuk dalam bidang pendidikan inilah yang pada zaman modern seperti sekarang ini, dimana era teknologi komunikasi dan informasi sering dilupakan oleh para guru pada khususnya dan lembaga pendidikan pada umumnya, termasuk lembaga pendidikan islam.

Untuk itu seorang guru harus mampu mentransformasikan dirinya, secara fungsi dan kompetensinya, selain sebagai pengajar dan pembimbing, dia pada hakikatnya adalah pendidik atau guru. Yang sepantasnya untuk digugu dan untuk ditiru karena penuh cinta dari berbagai aspek kehidupan yang ada dalam dirinya.

Sebaiknya bagi mereka yang terpilih oleh rakyat untuk maju sebagai wakil rakyat di parlemen atau sebagai pemimpin di masyarakat, birokrasi dan negara harus mempunyai perhatian dan kepedulian kepada pendidikan. Harus mempu membawa nama baik profesi yang disandangnya agar “virus” cinta ini menyebar untuk kebaikan dirinya dan orang lain.

Saya sering menyampaikan kepada rekan-rekan guru, baik di persatuan guru maupun para aktivis persaudaraan guru bahwa untuk gagap teknologi atau gaptek itu mudah dan cepat untuk dipelajarinya tetapi kalau gagap moral, akhlak dan Al-Quran butuh waktu khusus. Butuh cinta untuk mempelajari dan mengamalkannya.

Untuk itulah maka sudah saatnya guru masa kini harus melek kitab suci, selain ia melek teknologi, melek bahasa dan melek konstitusi. Dengan demikian maka ia akan tetap relevan dan cocok untuk mendidik para tunas bangsa di era moderen yakni era teknologi komunikasi dan informasi masa kini.

Sebagaimana syiar yang dilakukan baru-baru ini oleh lembaga pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Thariq Bin Ziyad di Bekasi. Salah satu perguruan yang dibentuk oleh mantan Bupati Bekasi 2007-2012 Bapak Dr. Sa’duddin MM. Untuk menjawab tantangan guru dan pendidikan yang ada pada saat ini maka A3B adalah jawabannya.

A3B adalah nilai-nilai dasar pendidikan yang digali dari proses perjalanan 15 tahun lebih perguruan Thariq Bin Ziyad berkiprah melayani masyarakat Bekasi dan sekitarnya, diyakini bahwa dengan 4 nilai dasar itu sekolah islam manapun akan mampu menjadi trendsetter sekolah unggulan.

Dimulai dari para pimpinannya, guru-gurunya terlebih dahulu untuk melaksanakan A3B itu maka akan berkembang buah pada para murid-muridnya, para alumninya, masyarakat sekitarnya, dan lembaga pendidikan yang dimasuki oleh para lulusannya. Sehingga slogan “guru baik masyarakat, bangsa dan negara akan baik” akan menjadi kenyataan.

Saatnya para guru (dalam arti khusus dan umum) untuk saling bergandengan tangan, membangu ruhut ta’awun (ruh kerjasama) yang baik,  jangan dikotak-kotakan oleh kepentingan idiologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya tertentu yang akan merusak moral dan martabat tunas bangsa dan generasi muda indonesia.

Keempat nilai dasar itu adalah Akhlak, Al-Qur’an, Akademik dan bahasa. Dengan dilengkapi enam Citra Perguruan Thariq Bin Ziyad (Amanah, Bersih, Disiplin, Berprestasi, Peduli Lingkungan, Berketerampilan hidup) yang selama ini sudah di bangun maka cita-cita untuk  membentuk generasi, membangun kepemimpinan baik di tingkat lokal dan nasional yang shaleh dan cerdas insya Allah akan segera terwujud. Wallahu a’lam. [DM].

Hari guru nasional setiap tahun kita peringati. Sudahkan hari guru nasional ini menjadi milik semua kalangan dan milik kita semua? Terlepas apa saja kita posisi dan profesinya, atau hanya milik mereka yang berprofesi sebagai guru saja? Fakta dilapangan menunjukan terkadang seorang guru juga sering lupa atau tidak tahu kapan hari guru itu diperingati.

Tulisan ini sengaja penulis hadirkan sebagai kado bagi penulis sendiri dan mereka yang masih ingat dan yang sengaja untuk mengambil hikmah dari peringatan pada hari ini (25 November 2013) sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Dengan harapan semoga hari guru ini merupakan hari yang memberi arti dan manfaat bukan hanya seremonial sesaat.

Mari kita hadirkan makna guru yang sesungguhnya dan seluas-luasnya agar peringatan hari guru kali ini bukan hanya menjadi milik mereka, seorang yang berprofesi guru. Agar hari guru nasional menjadi milik kita semua maka pada dasarnya guru mereka orang-orang yang berilmu dan dengan ilmunya itu mereka mampu mengarahkan, mendidik dan mengajarkan orang lain.

Para Orangtua adalah guru, Para wartawan adalah guru, para pejabat adalah guru, para PNS yang bekerja di dinas/kementrian pendidikan atau lainnya adalah guru, para jurnalism adalah guru, para pemimpin formal, nonformal maupun informal adalah guru karena dengan ilmunya mereka akan mampu mengarahkan, mendidik dan mengajarkan orang lain mengerjakan perbuatan yang baik, supaya menjadi lebih baik serta meninggalkan dan membenci sesuatu yang buruk.

Jika demikian adanya maka slogan “Guru Baik Masyarakatnya Akan Baik, Guru Baik Bangsanya Akan Baik, Guru Baik Negara Juga Akan Baik” akan terwujud dengan baik, tetapi jika hanya mereka saja yang berprofesi guru yang berbuat baik tanpa adanya dukungan dari semua pihak maka sulit rasanya untuk merealisasikan slogan tadi di atas.

Untuk itulah maka mari kita mengingat-ngingat kembali pesan Syaikhul Islam Imam Al-Ghozali tentang adab guru-murid, dengan kata lain adab pemimpin dan yang dipimpin, adab masyarakat dengan para tokoh-tokohnya sebagaimana dikutif oleh Ulama Kharismatik dunia Sa’id hawwa dalam kitabnya “Mensucika Jiwa” yang merupakan sarah dari kitab Ihya Ulumuddin karya monumental Imam Al-Ghozali :

Adab dan Tugas Murid :

1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadah hati, shalatnya jiwa dan peribadatannya batin kita kepada Allah Sang Maha Pencipta.

2. Mengurangi keterikatannya dengan dunia karena ikatan-ikatan itu terkadang bahkan sering menyibukkan dan memalingkan.

3. Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu (Orangtua/Guru) dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan urusannya dengan mematuhi semua nasehatnya.

4. Penuntut ilmu pada tahap awal ia harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia, baik apa yang ditekuninya itu ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Agar tidak putus asa atau bingung/malas dalam mengkajinya.

5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu. Kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan mempertimbangkan tujuan dan maksudnya, jika usianya mendukung maka ia berusaha mendalaminya.

6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi mejaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting.

7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya, karena ilmu tersusun secara runut sebagaimana jalan bagi seorang yang berjalan.

8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui dan menguasai ilmu yang paling utama/mulia.

9. Hendaklah tujuan murid menuntut ilmu di dunia ini adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya denga keutamaan dan diakhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan sesuatu yang lebih tinggi derajatnya, yang dekat daripada yang jauh, sesuatu yang penting dari yang tidak penting. Terutama urusan dunia dan akhirat.

 

Adab dan Tugas Pembimbing dan Pengajar :

1. Belas kasih kepada murid dan memperlakukannya sebagai anak.

2. Meneladani Rosulullah SAW dengan tidak meminta upah mengajar, tidak bertujuan mencari imbalan ataupun ucapan terima kasih, tetapi mengajar semata-mata karena Allah dan Taqorrub kepadaNya.

3. Memberikan nasehat dan tidak meninggalkan nasehat kepada murid sama sekali.

4. Mencegah murid dari akhlak tercela, dengan cara langsung atau tidak langsung, dengan kasih sayang bukan dengan celaan.

5. Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang tidak ditekuninya.

6. Membatasi sesuai dengan kemampuan murid, tidak menyampaikan kepadanya apa yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akalnya agar tidak memberatkan atau membuatnya enggan belajar.

7. Murid yang terbatas kemampuannya sebaiknya disampaikan kepadanya hal-hal yang jelas dan cocok dengannya.

8. Hendaklah guru melaksanakan ilmunya, yakni perbuatannya tidak mendustakan perkataannya, karena ilmu diketahui dengan mata hati (bashiroh) dan amal diketahui dengan mata, sedangkan mata jauh lebih banyak.

Dari uraian adab dan akhlak murid serta guru (pengajar dan pembimbing) di atas dapat kita fahami bahwa ilmu pendidikan pada zaman dahulu ternyata sudah memenuhi kaidah-kaidah psikologis dan pedagogis maupun andrigogis. Termasuk di dalamnya bahwa seorang guru harus mendidik dan melayani muridnya dengan penuh cinta.

Idiologi cinta dalam berbagai maknanya termasuk dalam bidang pendidikan inilah yang pada zaman modern seperti sekarang ini, dimana era teknologi komunikasi dan informasi sering dilupakan oleh para guru pada khususnya dan lembaga pendidikan pada umumnya, termasuk lembaga pendidikan islam.

Untuk itu seorang guru harus mampu mentransformasikan dirinya, secara fungsi dan kompetensinya, selain sebagai pengajar dan pembimbing, dia pada hakikatnya adalah pendidik atau guru. Yang sepantasnya untuk digugu dan untuk ditiru karena penuh cinta dari berbagai aspek kehidupan yang ada dalam dirinya.

Sebaiknya bagi mereka yang terpilih oleh rakyat untuk maju sebagai wakil rakyat di parlemen atau sebagai pemimpin di masyarakat, birokrasi dan negara harus mempunyai perhatian dan kepedulian kepada pendidikan. Harus mempu membawa nama baik profesi yang disandangnya agar “virus” cinta ini menyebar untuk kebaikan dirinya dan orang lain.

Saya sering menyampaikan kepada rekan-rekan guru, baik di persatuan guru maupun para aktivis persaudaraan guru bahwa untuk gagap teknologi atau gaptek itu mudah dan cepat untuk dipelajarinya tetapi kalau gagap moral, akhlak dan Al-Quran butuh waktu khusus. Butuh cinta untuk mempelajari dan mengamalkannya.

Untuk itulah maka sudah saatnya guru masa kini harus melek kitab suci, selain ia melek teknologi, melek bahasa dan melek konstitusi. Dengan demikian maka ia akan tetap relevan dan cocok untuk mendidik para tunas bangsa di era moderen yakni era teknologi komunikasi dan informasi masa kini.

Sebagaimana syiar yang dilakukan baru-baru ini oleh lembaga pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Thariq Bin Ziyad di Bekasi. Salah satu perguruan yang dibentuk oleh mantan Bupati Bekasi 2007-2012 Bapak Dr. Sa’duddin MM. Untuk menjawab tantangan guru dan pendidikan yang ada pada saat ini maka A3B adalah jawabannya.

A3B adalah nilai-nilai dasar pendidikan yang digali dari proses perjalanan 15 tahun lebih perguruan Thariq Bin Ziyad berkiprah melayani masyarakat Bekasi dan sekitarnya, diyakini bahwa dengan 4 nilai dasar itu sekolah islam manapun akan mampu menjadi trendsetter sekolah unggulan.

Dimulai dari para pimpinannya, guru-gurunya terlebih dahulu untuk melaksanakan A3B itu maka akan berkembang buah pada para murid-muridnya, para alumninya, masyarakat sekitarnya, dan lembaga pendidikan yang dimasuki oleh para lulusannya. Sehingga slogan “guru baik masyarakat, bangsa dan negara akan baik” akan menjadi kenyataan.

Saatnya para guru (dalam arti khusus dan umum) untuk saling bergandengan tangan, membangu ruhut ta’awun (ruh kerjasama) yang baik,  jangan dikotak-kotakan oleh kepentingan idiologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya tertentu yang akan merusak moral dan martabat tunas bangsa dan generasi muda indonesia.

Keempat nilai dasar itu adalah Akhlak, Al-Qur’an, Akademik dan bahasa. Dengan dilengkapi enam Citra Perguruan Thariq Bin Ziyad (Amanah, Bersih, Disiplin, Berprestasi, Peduli Lingkungan, Berketerampilan hidup) yang selama ini sudah di bangun maka cita-cita untuk  membentuk generasi, membangun kepemimpinan baik di tingkat lokal dan nasional yang shaleh dan cerdas insya Allah akan segera terwujud. Wallahu a’lam. [DM].


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini